Selasa, 20 Januari 2009

GELENG - GELENG


(Darussalam, 3 Juli 2008 - buat teman-teman di Prajabatan)

Aura forum kembali menyengat
abdi putih hitam duduk bak bertengker
pucuk-pucuk kopiah dan kerudung menyejukkan bak habis keramas
otak kiri otak kanan mulai tunjukkan aksinya

Semangat 55 hari ini sangat kuat
maklum masih pagi
kelopak mata menyambut pilihan kata
bibir berucap luruskan pengetahuan
maklum masih pagi
1.2.3.4.5.6.....

Pikiranku mulai menggaruk
menggaruk pantatku yang berasap karena gesekan kursiku
menggaruk mataku yang mulai redup
karena nina bobo dari nyanyian berjudul "terlalu monoton"

Wah, kawanku kau tampak tegar menyimaknya
sambil memainkan kumis dan jenggot
Wah, kawanku kau mulai layu
layu selayu dasimu, kosong sekosong bajumu
yang putih, redup seredup warna gelap celanamu
maklum sudah siang

Geleng-geleng kepalaku tapi bukan olahraga
geleng-geleng penaku menulis puisi ini
memaknai sebuah dinamika di prajabatan

JIN TIDUR


(Darussalam, 10 Juli 2008, buat teman-teman di prajabatan)


Deret kursi menanti menguji kesetiaan
membuktikan dengan angkuh
kebendaannya yang sempurna

Tidak dengan kata-kata saudara
tidak dengan benda
tidak dengan senyuman
tapi dengan buaian dalam nyanyian jin-jin tidur

Angin-angin artikulasi tertiup dari corong berwibawa
mengantar sisi-sisi hidup tuk berarti
mengantar sisi-sisi alis meredupkan mata
mata-mata yang tidak mesti tidur
mata-mata yang munafik akan tugasnya
mata-mata yang mengusung pena "pelanggaran hak asasi mata"
mata-mata yang mengobarkan ...aku...ingin ...tidur..walau sedetik saja

Penjajahan rupanya beluam usai
genderang perang sudah ditabuh
jin-jin tidur merapatkan barisan
mengayuh perahu kelopak
menegakkan bendera-bendera ngantuk
menutup jendela-jendela masa depan

Bangun...bangun...
bangunkan matamu
biarkan dia menatap keindahan
biarkan dia merobek kertas-kertas penjajahan
biarkan dia mengatakan "aku ingin tegar sayang"

Agar kegenggam mangkuk keceriaanku
agar kutebar kasih
agar kutanam bibit sayangku
agar kupetik buah cintaku
untuk sata kata ...sempurna


TENGAK - TENGOK


Darussalam, 3 Juli 2008
(buat teman-teman di Prajabatan)


Zikir bangunkan kalbu dikala shubuh
tengak peraduanku yang tampak empuk
tengok tubuhku yang tampak luluh setelah tidur
Kubersimpuh, bersujud bersama malaikat shubuh
setelah tengak kamar mandiku
dan tengok gemerincik air untuk bersuci

Riak hidup kembali bersuara
tancapkan apa ini, apa itu di atap-atap tanda tanya
tengak aroma pagi
tengok idealisme para bunjangan yang masih
belajar membaca skenario Tuhan akan arti
nikah baginya

Kumpul.....
Tengok lemarimu hari baju apa
Tengok cerminmu hari ini dandan buat siapa
Tengok diluar teman-teman kumpul atau tidak

Kumpul....
Tengok lenggang absen dimana?
Tengok sendu gurau diruang makan
Tengok PNS-mu, abdi meraung robohkan sisi burukmu
Tengak......tengok... ada orang nda?

T.A.I


(puisi dari teman)
Suatu hari aku ke kuTAI
bertemu aktor karateka cingkhongTAI
yang baru tiba dari MuangTHAI
duduk-duduk di lanTAI
sambil mindum dengan sanTAI

Keesokan hari aku ke panTAI
bersama kekasihku yang sangat kucinTAI
berjalan-jalan dipesisir panTAI
mengenang kisah cinta yang sangat beranTAI


Tidak terasa ada hansip yang menginTAI
dekat rimbunan bunga teraTAI
kuajak duduk dan kuceriTAI
tentang panTAI
yang dilanda pembuangan TAI

AGUNG YANG MERAUNG



(buat Agung di prajabatan-Darussalam Juli 2008)

Satria....
Awalnya kau begitu indah
kupuja namamu seirama agungku
kupuji wajahmu seagung rembulan
kuhormati martabatmu seagung ibuku
kusanjung pesenomau menundukkan naluri lelakiku
pesonamu begitu indah
bahkan menaklukkan waktu, hari di Darussalam

Satria...
Pesonamu telah mengikis kewarasanku
hingga Kutantang badai sebesar bumi
kuremukkan biji-biji kemiri di camba
keminum deras air di Bantimurung
keseberangi sungai di cenrana
kudaki gunung bulusaraung
hanya karena aura namamu
S.A.T.R.I.A sambutlah tanganku kan gupai pesawat dibandari

Satria....
Kini aku sadar
Aku hanya bermain-main dengan imajinasiku
seorang lelaki pilihan telah kau sambut cintanya
lelaki yang begitu agung bagimu
tapi tak seagung diriku
Lelaki yang begitu jantan
tapi tak sejantan diriku
dia....yaa.. dia..
Ince Jamaluddin namanya

Biar-biarlah
Biar kujalani hari ini tanpa namamu lagi
hatiku yang remuk kubiarkan pecah
jiwaku yang kosong kubiarkan melompong
bunga-bunga pesonamu kini tampak kering dimataku
Sakit hatiku.....
meraung naluriku, melayang harapanku
setiap kulihat kau bersamanya

Satria..
Badai sebesar bumi kubiarkan meluluhkanku
biji-biji kemiri kembali kutaburkan dengan tetes air mata
biar derasnya air dibantimurung menghanyutkan jasadku
biar sungai cenrana menenggelamkan namaku
biar bulusaraung menindih imajinasiku

Satria....
Berangkatlah sayang
Raihlah impiamu bersamanya
Tunjukkan kepadanya kalau kamu adalah wanita idaman
Tunjukkan kepadanya kalau jiwamu adalah belahan jiwanya
jiwa yang mengusung kesetiaan
kesetiaan tanpa kemunafikan cinta kasih
disini sendiri menyendiri
menanti kebahagiaanmu
juga kebahagiaanku.

AKU SUDAH PANDAI BU

Sudiang Juli 2008

Aku sudah pandai bu
Pandai bercerita
tentang arti dan riak-riak kehidupanku

Aku sudah pandai bu
Pandai menyusun daftar masalahku
Pandai memilih dan memilah
sebuah harapan tanpa kemunafikan

Aku sudah pandai bu
Pandai Menyusun Skenario Kemunafikan
dengan judul "berdusta kepada Orang Tua"

Aku sudah pandai bu
Pandai mengatakan "aku ingin kawin bu"
kawin dengan sebuah nama dilumbung hatiku
kawin dengan buah cintaku yang tidak dipoles
akan kemunafikan cinta kasih

Aku Sudah pandai bu
Pandai mengawali dan mengakhiri
puisi ini.....