(Buat Panitia dan teman-teman prajabatan Ank.I dan II 2008)Saudara-saudara
Malam ini adalah moment terakhir kita ditempat ini, setelah 24 hari bermain-main dengan waktu, dengan hari dan dengan aroma-aroma hati, rasa dan naluri kita masing-masing.
Disini, di Darussaalan, terlalu banyak cerita manis telah kita ukir dan sulit untuk diungkapkan, dan tidak sedikit pula kisah-kisah pahit yang begitu sakit untuk dikenang.
Saudara-saudara
Sesaat lagi daftar menu makan pagi, siang dan malam di prajabatan ini tidak lagi mengganggu selera makan kita
Tidak lagi mencium aroma kamar tidur yang kadang wangi, ribut karena cerita-cerita klasik menjelang tidur
Tidak lagi menjelajahi deretan tangga ke ruang belajar dan ke ruang makan yang terkadang melelahkan
Tidak lagi merasakan penjajahan jin-jin tidur saat menikmati materi
Tidak lagi merasakan panasnya gesekan pantat dan kursi yang mulai berasap saat materi
Tidak lagi terancam keangkuhan diare yang berkolaborasi dengan malaikat maut
Tidak terdengar lagi nyanyian-nyanyian merdu dan kadang fales dari kawan-kawan yang terjaring hukuman
Tidak lagi membacakan bait-bait ikrar kegagalan yang menyindir kreatifitas
Tidak lagi ada debat-debat abunawas yang mencari pembenaran lewat forum-forum yang terpaksa diakhiri karena tak cukup waktu
Dan tidak lagi melihat kelucuan, keluguan dan egoisme serta kreatifitas kawan-kawan, saudara-saudara dan sahabat-sahabat kita di sini.
Saudara-saudara
Besok juga, kita tidak lagi merasakan pencerahan doa, gerakan pemanasan, gerakan inti dan pendinginan dari Pak Rasyid
Tidak lagi melihat senyum manis dan semangat Ibu Ramlah
Tidak lagi merasakan kesejukan di wajah ibu Masdaniah yang kalem
Tidak lagi Menikmati agresifitas dan aura Macho Pak Erick yang terus mencari-cari peserta idolanya serta aksinya mencatat peserta yang tertidur.
Dan tidak ada lagi antusiasme, lirik pena, nasehat-nasehat membangun, game-game asik dan cokocokocok dari Pak Sattar
Saudara-Saudara
Harus diakui bahwa image otoriter, intimidasi dan bentuk-bentuk ketakutan peserta atas sosok Panitia yang terbangun diawal kita menginjakkan kaki di Darussalaman adalah sebuah kesalahan besar
Harus disadari bahwa dedikasi, perhatian, kebijaksanaan disana-sini adalah sebuah konsep diklat prajabatan edisi khusus untuk kita, sebuah konsep yang secara tidak sadar telah terbangun walau terkesan memanjakan pola pikir, pola sikap dan pola bahasa kita.
Karenanya saudara-saudara patutlah kita banyak-banyak berterima kasih, memuja, memuji kerja keras panitia, seraya berdoa semoga aktivitas dan buah pikiran mereka bernilai ibadah dan diridhoi oleh Allah SWT.
Saudara-saudara
Sadar atau tidak, sesekali bahkan beberapa kali, pikiran-pikiran, sikap dan tutur kata kita telah menambah daftar masalah panitia, masalah-masalah yang seharusnya tidak perlu kita perbuat dibalik mantel keserjanaan dan status social kita.
Karenanya kepada Bapak dan -ibu panitia kami peserta prajab, dengan jiwa besar nan kesatria, tahu dan mengakui semuanya, terimalah permohonan maaf kami, permohonan dari lubuk yang paling dalam.
sekali lagi maafkan kami.
Saudara-saudara
Besok kita akan kembali keperaduan karir dan pengabdian kita kepada keluarga dan Negara, semoga apa yang kita pikir, kita lihat, dan kita rasa di sini dapat dijadikan sebagai referensi untuk hidup kita, untuk anak-anak kita, untuk cucu-cucu kita dan untuk doa-doa kita.
Dan marilah kita jadikan hari kemarin sebagai kenangan, hari ini adalah kenyataan dan hari esok adalah harapan dengan segalah konsekuensinya
Sukses besar buat panitia dan
Sukses selalu buat teman-teman
Salam dan maaf dari kami..